Balon Udara
Bobo, Coreng, dan Upik ramai-ramai naik malon udara. Melihat pemandangan Negeri Kelinci dari atas memanglah epic. Anak-anak gembira sekali. "Hati-hati, Bo, topimu bisa tertiup angin!" pesan Coreng. Angin di atas memang sangat kencang. Rambut Coreng berkibar-kibar tertiup angin. Upik memegang teropongnya erat-erat.
Upik melihat pemandangan dengan teropongnya. "Itu rumah kita bukan, ya?" tanya Upik sambil menunjuk sebuah rumah yang tampak kecil di bawah. Bobo meminjam teropong Upik. "Aku juga mau lihat!" seru Coreng.
"Nanti dulu! Aku belum selesai!" teriak Upik. Coreng dan Upik berebut teropong. "Gantian, dong! Jangan berebut!" lerai Bobo. Sayang, ketika Coreng baru mulai meneropong, waktu habis. Balon udara mulai turun perlahan.
Huh! Coreng marah pada Upik. "Gimana kalau kubelikan balon sebagai gantinya?" tawar Bobo sambil menunjuk penjual balon di dekat mereka. "Tidak mau! Memangnya, aku anak kecil?" sahut Coreng ketus.
"Eh, gambarnya lucu!" kumentar Coreng sambil menunjuk balon iklan yang melayang di atas mereka. Aha! Bobo jadi ingin melakukan sesuatu untuk Coreng! "Semoga Coreng tidak marah lagi," gumam Bobo.
Wusshh... sebuah balon kecil berbentuk pesawat melintas di atas kepala Coreng. Coreng merunduk. Wusshh... lagi-lagi, balon itu mengejarnya. Xixixi.... tiba-tiba, ada suara Bobo tertawa. Rupanya, Bobi yang mengendalikan balon itu dengan remote. "Kamu mau mencobanya, Reng?" Tentu saja Coreng mau! Marah Coreng pun langsung hilang.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar