Minggu, 24 Mei 2020

Hamster Hilang

Hamster Hilang

Upik sedang bermain-main dengan hamsternya. Dia mengeluarkan hamster itu dari kandangnya. "Upiiik!" tiba-tiba Emak memanggil. "Eh, tunggu sebentar, ya!" pesan Upik kepada hamsternya. Upik buru-buru menaruh hamsternya di keranjang motor Paman Gembul.

Tak lama kemudian, Paman Gembul keluar dari rumah Bobo. Emak menyuruhnya membeli  makanan. "Paman, aku ikut!" seru Upik. "Enggak usah, Paman cuma sebentar," jawab Paman Gembul. Paman Gembul mengambil motornya, lalu melaju pergi.

Hamster Hilang

"Kalau begitu, aku main sama Si Ciku Hamster aja," gumam Upik. "Lho, kok, kandang Ciku kosong?! Wah, Ciku lepas!" Upik berteriak-teriak, "Bobooo... Ciku lepas!" dengan panik, Upik mencari-cari hamsternya.
Bobo, Coreng, dan Emak sibuk membantu. Semua tempat mereka telusuri. Semak-semak mereka sibak. Tapi, Ciku Hamster tetap saja tidak ditemukan. "Huu... huu... aku mau hamsterku!" tangis Upik.

Hamster Hilang

Semua jadi sibuk menghibur Upik. "Sudah... nanti kita beli hamster yang baru. Mungkin, Ciku ingin bebas bermain di luar," hibur Emak. "Nanti, biar Bobo dan Paman Gembul mengantarmu beli hamster yann baru, ya!"

Terdengar suara motor Paman Gembul datang. "Kenapa Upik menangis?" tanya Paman Gembul heran. "Hamster Upik hilang, Paman! Ayo kita antar Upik beli hamster lagi!" ajak Bobo.

Hamster Hilang

"Tunggu, langit mendung sekali. Jangan lupa bawa jas hujan, ya!" pesan Emak. "Taruh saja di keranjang motorku, Pik!" kata Paman Gembul. Upik mengangguk. Lalu membuka keranjang motor Paman Gembul. Tiba-tiba dia menjerit.

Sepasang mata bulat mungil memandang Upik dengan kaget. "Cikuuu...!!!" teriak Upik mengagetkan semua kelinci. Oalah, Upik baru ingat, kalau tadi ia menaruh hamsternya di keranjang motor Paman Gembul.
( vero )
.
.
Kunjungi juga akun instagram penulis
Serta jangan lupa untuk like, share, comment, dan mengikuti.

Terimakasih......
========================================================================================================================================================================================================================

Kamis, 23 April 2020

Balapan ATV


Balapan ATV

Keluarga kelinci sedang bermain ke taman bermain Rumah Donat. "Naik ATV, yuk!" seru Bobo. "ATV itu apa, sih, Bo?" tanya Upik. Bobo menjelaskan, "All Terrain Vehicle alias kendaraan di segala medan. Itu dia, ATV nya!"

Anak-anak mencoba naik ATV. Syuut... crooot! Tahu-tahu, cipratan lumpur mengenai baju Bobo. "Habis hujan, sih, sirkuitnya jadi becek," komentar Bobo. Ups... baju Kutu Buku dan Tut Tut juga kena. "Ayo, kita balapan ATV!" usul Tut Tut.

Bobo, Kutu Buku, dan Tut Tut bersiap dengan ATV masing-masing. "Aku mau membawa bukuku!" kata Kutu Buku. Tut Tut juga sibuk mengikat kereta-keretaannya di belakang ATV. "Biar panjang seperti kereta api sungguhan," kata Tut Tut. Bobo mengencangkan tali helmnya. Mereka bertiga siap berlomba.

Siapa, ya, yang akan jadi pemenangnya? Kutu Buku memacu ATV nya. Belum jauh berjalan, Kutu Buku terpaksa berhenti karena buku-bukunya berjatuhan. Kini, Kutu Buku ada di urutan terakhir.

Giliran Tut Tut yang ngebut. Dia ingin memenangkan pertandingan. Celaka! Gandengan kereta-keretaannya putus! Ah, Tut Tut tidak ingin meninggalkan kereta-keretaannya di tengah jalan. Dia pun terpaksa berhenti.

Sekarang, Bobo yang ada di urutan paling depan. "Aha, pasti aku yang jadi juara," pikir Bobo. Bobo pun melaju dengan santai. Tiba-tiba, brum... brum... ngik! Mesin ATV yang dinaiki Bobo mati. Berkali-kali, Bobo berusaha menyalakannya, tapi gagal.

Akhirnya, tidak satu pun dari ketiga anak itu yang mencapai garis finish. "Kita semua kalah, deh!" seru Kutu Buku. "Tidak apa-apa, yang penting, kita senang!" sambut Bobo. Ya, biarpun belepotan lumpur, mereka bertiga asyik tertawa sambil makan donat. ( Vero )

.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Rabu, 15 April 2020

Balon Udara

Balon Udara


Bobo, Coreng, dan Upik ramai-ramai naik malon udara. Melihat pemandangan Negeri Kelinci dari atas memanglah epic. Anak-anak gembira sekali. "Hati-hati, Bo, topimu bisa tertiup angin!" pesan Coreng. Angin di atas memang sangat kencang. Rambut Coreng berkibar-kibar tertiup angin. Upik memegang teropongnya erat-erat.

Upik melihat pemandangan dengan teropongnya. "Itu rumah kita bukan, ya?" tanya Upik sambil menunjuk sebuah rumah yang tampak kecil di bawah. Bobo meminjam teropong Upik. "Aku juga mau lihat!" seru Coreng.

"Nanti dulu! Aku belum selesai!" teriak Upik. Coreng dan Upik berebut teropong. "Gantian, dong! Jangan berebut!" lerai Bobo. Sayang, ketika Coreng baru mulai meneropong, waktu habis. Balon udara mulai turun perlahan.

Huh! Coreng marah pada Upik. "Gimana kalau kubelikan balon sebagai gantinya?" tawar Bobo sambil menunjuk penjual balon di dekat mereka. "Tidak mau! Memangnya, aku anak kecil?" sahut Coreng ketus.

"Eh, gambarnya lucu!" kumentar Coreng sambil menunjuk balon iklan yang melayang di atas mereka. Aha! Bobo jadi ingin melakukan sesuatu untuk Coreng! "Semoga Coreng tidak marah lagi," gumam Bobo.

Wusshh... sebuah balon kecil berbentuk pesawat melintas di atas kepala Coreng. Coreng merunduk. Wusshh... lagi-lagi, balon itu mengejarnya. Xixixi.... tiba-tiba, ada suara Bobo tertawa. Rupanya, Bobi yang mengendalikan balon itu dengan remote. "Kamu mau mencobanya, Reng?" Tentu saja Coreng mau! Marah Coreng pun langsung hilang.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Minggu, 12 April 2020

Restoran Hijau


Restoran Hijau

Bobo dan saudara-saudaranya bermain di rumah pohon. "Uuuh, panas sekali di sini," keluh Upik. "Ini pasti karena global warming." komentar Coreng. "Apa ya, yang bisa kita lakukan untuk mengurangi global warming?"

"Kita bikin Restoran Hijau, yuk!" ajak Bobo. "Semua pembeli harus membawa tempat makan dan minum sendiri." Anak-anak pun membuat restoran serba hijau di halaman. Pot-pot tanaman mereka pindahkan ke sana.

Anak-anak memasak sendiri makanan yang akan mereka jual. Mereka mencari resepnya di majalah anak-anak. Ada jus buah, spaghetti, omelet, pizza mi, dan roti bakar. Dapur Emak jadi ramai.

"Selamat datang di Restoran Hijau," sambut Coreng pada pembeli pertama. Paman Gembul membalas dengan anggukan. "Aku mau spaghetti telur dan jus mangga." Paman Gembul menyodorkan kotak makan dan gelas besarnya.

Cimut menjadi pembeli kedua. "Pizza mi. Beli!" pesannya sambil menyodorkan kotak besar. "Oh, Cimut mau pizza mi?" Coreng melayani pembelinya dengan ramah dan cekatan.

Pembeli ketiga dan keempat datanb bersamaan. Oho, lagi-lagi Paman Gembul dan Cimut. "Makanan sebanyak itu masih kurang?" tanya Coreng kaget. Tetapi, dia senang karena makanannya laku.

Lalu, restoran sepi, padahal sudah sore. "Kita beli sendiri aja!" usul Bobo. Anak-anak makan, lalu memasukkan uang ke dalam kotak.

"Sekarang, kita bisa beli bibit pohon," kata Bobo. Anak-anak membeli beberapa bibit pohon. "Aku ingin memberikan dua buah bibit pohon untuk pelangganku yang setia," kata Coreng. Paman Gembul dan Cimut senang mendapatkannya. "Terima kasih, rumahku akan jadi lebih teduh!" kata Paman Gembul.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Jumat, 10 April 2020

Kolam Renang Baru


Kolam Renang Baru

Hari ini akan diadakan pesta untuk menyambut pembukaan kolam renang baru. Babak sudah tiba di tempat pesta. Sedangkan Bobo dan Upik baru akan berangkat.

Di tengah jalan, Upik minta dibelikan balon. Tapi, belum berapa jauh mereka berjalan, Upik berteriak, "Oh, balonku lepas, Bo!" Aih, sayang sekali.

"Mengapa tidak kamu pegang kuat-kuat talinya?" gerutu Bobo sambil mengejar balon. "Kita bisa terlambat tiba di kolam renang!" Namun, Upik tidak menjawabnya.

Untunglah balon itu tidak melayang tinggi ke udara. Dengan sekali lompat saja, Bobo berhasil menangkapnya. Tapi... buk!!! Bobo malah menabrak penjual balon. Penjual balon terkejut sekali. Tanpa sengaja, ia melepaskan balonnya.

"Tolooong!!!" seru penjual balon. "Balonku lepas! Oh, habislah semua uangku!" Bobo juga terkejut, tapi ia segera mengejar balon yang lepas itu. Syukurlah, bobo berhasil menangkapnya. Penjual balon pun, tidak jadi kehilangan balonnya.

"Terima kasih, Nak," ujar penjual balon. "Kalau tidak ada kamu....." Sebelum penjual balon menghabiskan kata-katanya, Bobo bertanya sendiri, "Lho, dimana upik? Bobo menengok ke kanan dan ke kiri. "Oh, mungkin ia sudah masuk ke kolam renang." pikir Bobo.

Cepat-cepat Bobo berlari menuju ke kolam renang untuk mencari Upik. Tetapi, tiba-tiba ia melihat banyak balon melayang di angkasa. Balon-balon itu datang dari arah kolam renang. "Oh, apa yang telah dilakukan Upik? Apakah karena ulahnya balon itu lepas semua?"

Ketika Bobo masuk ke kolam renang, dilihatnya Upik berdiri si samping Bapak. "Upik, apa yang telah....." Tetapi Bapak sudah berkata, "Wah, kamu datang tepat pada waktunya, Bo. Lihat, semua anak sudah melepaskan balonnya untuk menyambut upacara pembukaan!" Bobk tidak jadi memarahi Upik. Ia malah tersenyum gembira. Untung balon-balon itu terlepas bukan karena ulah Upik. Bobo memandang balon-balon beraneka warna yang melayang di angkasa sambil berseru, "Hore! Hore! Selamat untuk kolam renang baru!"
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Senin, 06 April 2020

Tanda Tangan Pengarang


Tanda Tangan Pengarang

"Buku terbaru serial Kelinci Cerdik mau terbit! Kita bisa beli bukunya tengah malam, lalu mendapatkan tanda tangan pengarangnya," kata Kutu Buku. Anak-anak tertarik. Mereka pengemar berat serial Kelinci Cerdik.

"Tidak boleh! Acaranya tengah malam. Kalian besok harus sekolah," kata Bapak. Anak-anak kecewa. "Beli saja bukunya besok siang," hibur Emak. Pulang sekolah, anak-anak mampir ke toko buku.

"Wah, Kak Tulis Labuku tidak ada. Kalian tidak bisa mendapatkan tanda tangannya," kata penjaga toko. Anak-anak terpaksa membeli serial Kelinci Cerdik tanpa tanda tangan pengarang favorit mereka.

"Padahal, aku juga ingin berfoto dengan Kak Tulis Labuku," kata Coreng. "Iya, pasti seru kalau kita punya buku yang ada foto dan tanda tangan pengarangnya," sahut Kutu Buku.

Aha, Bobo mendapat ide. "Kita bikin buku sendiri!" Anak-anak langsung sibuk. Hmm, gaya Kutu Buku serius sekali. Dia berpikir keras sambil membuka-buka kamus. Coreng juga asyik dengan pensil warnanya.

"Bukuku sudah selesai!" seru Bobo. "Aku juga! Lihat, bagus, kan?" kata Upik. Coreng malah menambahkan gambar-gambar yang indah di dalam bukunya. "Tato Ajaib, pengarang Kutu Buku!" pamer Kutu Buku.

"Ayo kita berfoto!" teriak Coreng. "Upik, kamu bergaya yang cantik, ya!" Klik! Klik! Mereka bergantian saling memotret. Foto-foto mereka yang keren itu mereka cetak di komputer. "Jangan lupa ditandatangani, ya!" pesan Bobo.

"Cihuy! Sekarang, kita semua punya buku yang ditandatangani oleh pengarangnya!" seru Upik. "Kita bisa terkenal seperti Kak Tulis Labuku!" sahut Kutu Buku sambil tertawa. ( Vero )
.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Sabtu, 16 Februari 2019

Paman Gembul Malu



Pada hari itu, Emak mengajak anak – anak menonton sirkus. Di depan tenda tampak gambar seorang badut. “Tahukah kamu berapa buah bola yang dilemparkan sekaligus?” tanya Bobo. “Ia melemparkan semua bola itu ke atas,” sahut Coreng.

Sewaktu Emak membeli karcis, Bobo melihat Paman Gembul. “Halo, Paman!” sapa Bobo. “Emak sedang membeli karcis untuk nonton sirkus!” Mata Paman Gembul membelalak. “Oh, ya?” katanya. “Mmm, mmm, kebetulan kalau begitu.”

Mengapa Paman Gembul mengatakan kebetulan? “Hmm, kalau mereka nonton sirkus, aku dapat mencuri buah apel mereka!” kata Paman Gembul dalam hati.

Paman Gembul cepat-cepat pergi ke rumah Bobo. “Sedaaap, mantaap!” seru Paman Gembul saat melihat buah apel bergelantungan.

Paman Gembul duduk di atas dahan. Satu persatu buah apel itu dimakannya, Tetapi ketika ia melihat ke bawah, tampak... Bobo, Coreng, Upik, dan juga Emak. “AAPAA, mengapa mereka sudah kembali? Bukankah tadi mereka nonton sirkus?”

“Aku tidak boleh bergerak, kalau tidak mereka akan tahu aku berada di atas pohon.” Pikir Paman Gembul. Tetapi celakanya, Bobo, Coreng, dan Upik berhenti di bawah pohon apel. “Banyak buah apel berserakan!” seru Bobo. Lalu dipungutnya buah apel itu.

“Perhatikan, aku juga dapat berlagak seperti badut itu tadi!” kata Bobo. Apa yang dilakukannya? Ia melemparkan beberapa buah apel ke udara, seperti badut dalam sirkus. Tetapi buah apel yang dilemparkannya tepat mengenai hidung Paman Gembul!”

“Auuu.....Tolooong!” teriak Paman Gembul yang jatuh dari atas pohon. “Paman Gembul?” seru Bobo, Coreng, dan Upik serentak. “Paman dari mana?” tanya Bobo keheranan. “Mmm, mmm.” Paman Gembul ketakutan. “Paman membuat kami terkejut!” seru Coreng.

“Ya, aku juga terkejut.” keluh Paman Gembul. “Kau keliru,” kata Emak. “Aku membeli karcis bukan untuk hari ini, tetapi untuk besok.” Kata Emak. “Paman juga boleh ikut nonton!” kata Bobo sambil tertawa. Aduh, betapa malunya Paman Gembul.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ 

Kunjungi juga akun youtube penulis.
Jangan lupa untuk like, share, comment, dan subscribe yaa...
Karena itu semua gratis...

Bobo Si Jagoan Basket





Pada suatu hari, sepulang sekolah, Bobo dan teman-temannya main basket di lapangan sekolah. Sebentar lagi ada pertandingan di lapangan sekolah. Lihat, gaya Bobo sih keren, dengan baju basketnya yang baru.


Tetapi, waktu Bobo melemparkan Bola ke ring, dug.... nggak masuk Pak Eko! Teman-temannya tertawa. Ugh, Bobo kesal, berkali-kali memasukkan bola selalu gagal!


Bobo ingin berlatih sendiri di rumah. “Rasanya, aku dulu pernah punya bola basket,” pikir Bobo. Benar saja, Bobo menemukan bola basketnya di gudang. Sayang, bola itu sudah kempes.


Aha, Paman Gembul punya pompa! “Wah, aku sih punyanya pompa balon, Bo!” Kata paman Gembul. Ah, tapi, Paman Gembul yang cerdik berhasil mengotak-atik pompa balonnya menjadi pompa bola.


“Terima kasih, Paman!” Seru Bobo. Bobo pun asyik memainkan bola basketnya bersama Coreng dan Upik. Tapi, bola harus dimasukkan kemana ya? Bobo tidak punya ring basket.


“Bo, itu ada ember, siapa tahu bisa jadi ring basket!” Seru Coreng. “Wah, ide bagus!” Bobo dan kedua adiknya melubangi ember menjadi ring basket. “Simsalabim, Abrakadabra, dari Jawa Aan Ajin-ajin, Awak-awak, Awak-awak, Ee, Oo, Aa, ahaaaaa, sudah jadi!” seru Bobo.


“Cihuy, kita punya ring basket baru!” Seru Upik. Mereka memasangnya di pohon rambutan. Tiba-tiba, Coreng melihat Emak kebingungan. “Cari apa, Mak!” Emak memandang anak-anak. “Ember yang tadi Emak pakai untuk menyiram bunga ke mana, ya?” Ups, ternyata embernya masih dipakai Emak. Upik cekikikan sambil menunjuk ring basket baru di atas pohon. Ah, Emak Cuma bisa geleng-geleng kepala.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Kunjungi juga akun youtube penulis.
Jangan lupa untuk like, share, comment, dan subscribe yaa....
Karena itu semua gratis...

Terima Kasih....

Selasa, 12 Februari 2019

Pohon Rambutan



Pada suatu hari yang amat panas, Bapak mengamati pohon rambutan yang ada di depan rumah. “Sebentar lagi panen, nih!” Ya, rambutan di pohon sudah banyak yang memerah. “Wadaw, bagian atas pohon terkena kabel listrik, ini harus segera dipotong!”


Sementara itu, kelinci tukang sayur duduk sambil kipas-kipas di bawah pohon rambutan di depan rumah Bobo. “Ugh, hari ini panas sekali! Istirahat dulu, ah!”


Bapak muncul sambil membawa gergaji. “Pohon ini harus dipangkas!” Kata Bapak. Tukang sayur terkejut. “Oh, jangan! Nanti aku tidak bisa berteduh lagi!” Kata tukang sayur. “Tidak apa-apa, cuma dahan yang menganggu kabel listrik yang akan dipotong.” Sahut Bapak. “Wah, jangan dong!”


Bapak terpaksa tidak jadi memangkas dahan pohon. “Pak Tukang Sayur protes, Bo!” Cerita Bapak. “Tapi, kalau tidak dipangkas, kabel listrik bisa terganggu, Pak!” Kata Bobo.


“Tetap kita pangkas saja, lalu.......pssssst.....” Kata Bobo. “Ide bagus!” Seru Bapak. Bapak pun mulai memanjat dan memangkas dahan pohon rambutan dibantu Bobo.


Pohon rambutan sudah rapi. Tapi, Bapak dan Bobo masih punya rencana besar! Mereka membangun sebuah rumah-rumahan. “Wow, tempat berteduh baru!” Sorak tukang sayur. “Ayo pesta rambutan!” Sambung Bobo.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Kunjungi juga akun youtube penulis
Jangan lupa untuk like, share, comment, dan subscribe yaa...
Karena itu semua gratis.....


Terima kasih....

Kertas Gambar




Pada suatu hari, Bobo, Coreng, dan Upik, diajak Emak ke kebun binatang. Bobo dan Upik bermain di dekat kolam. Sedangkan Coreng menemani Emak sambil menggambar. "Aih, bagus sekali gambarmu!" Puji Emak. "Ya, gambar ini untuk Bapak. Tentu Bapak senang ya Mak?" Sahut Coreng.

"Mak, aku ingin memperlihatkan gambar ini kepada Bobo ya?" "Baiklah," jawab Emak. "Dan ini, bawa buah apel ini untuk Bobo. Dia kan senang makan apel." Dengan riang Coreng berjalan menuju kolam. Ia menyelipkan gambarnya di dalam saku bajunya.

"Yuhuu, Coreng!" Terdengar suara Bobo memanggil Coreng. "Hei, Bo!" ujar Coreng. "Kau tidak main - main di dekat kolam?" "Ah, tidak. Di sana panas sekali," jawab Bobo. Lebih enak di sini, sejuk." Sambil berbaring di bawah pohon. "Ini apel untukkmu," kata Coreng.

"Mmm, terima kasih ya, Reng," ujar Bobo. Tapi tiba - tiba Coreng berseru, "Oh, gambarku hilang! Padahal gambarku itu untuk Bapak!" Maka sibuklah Coreng mencari gambarnya. "Hei, mungkin Bapak itu melihat gambarmu!" Kata Bobo sambil menunjuk seorang pemungut kertas.

"Maaf, Pak. Apakah Bapak melihat gambar adik saya yang jatuh?" Tanya Bobo. "Oh ya? Tapi Bapak tidak melihat. Coba kalian cari sendiri di dalam tong ini," sahut bapak itu dengan ramah. "Oh terima kasih, Pak!" Sorak Coreng.

Bapak itu merendahkan tempat kertasnya. "Kurasa kertas gambarku ada di dalam tong ini, Bo," kata Coreng dengan cemas. "Tenanglah, cari dulu," hibur Bobo. "Ya, ya, ya," jawab Coreng sambil terus mencari kertas gambarnya.

"Alhamdulillah, ini dia, Bo!" Teriak Coreng sambil meloncat kegirangan. Dengan gembira ia mengangkat kertas gambarnya tinggi - tinggi. "Syukurlah," ujar Bapak pemungut kertas.

"Oh, tapi..... kertas gambarnya berlubang." Keluh Coreng. "Mungkin karena tadi dipungut dengan alat penusuk itu," sahut Bobo menenangkan.

"Ya, tidak apa - apa. Kan malah lebih mudah untuk digantung," hibur Bobo. "Hmm, kalau begitu aku berhasil membuat gambar yang sudah siap dipajang ya, Bo?"

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Kunjungi juga akun youtube penulis
Jangan lupa untuk like, share, comment, dan subscribe yaa...
Karena itu semua gratis

Terima kasih.....

Hamster Hilang

Hamster Hilang Upik sedang bermain-main dengan hamsternya. Dia mengeluarkan hamster itu dari kandangnya. "Upiiik!" tiba-tiba Emak ...