Kamis, 23 April 2020

Balapan ATV


Balapan ATV

Keluarga kelinci sedang bermain ke taman bermain Rumah Donat. "Naik ATV, yuk!" seru Bobo. "ATV itu apa, sih, Bo?" tanya Upik. Bobo menjelaskan, "All Terrain Vehicle alias kendaraan di segala medan. Itu dia, ATV nya!"

Anak-anak mencoba naik ATV. Syuut... crooot! Tahu-tahu, cipratan lumpur mengenai baju Bobo. "Habis hujan, sih, sirkuitnya jadi becek," komentar Bobo. Ups... baju Kutu Buku dan Tut Tut juga kena. "Ayo, kita balapan ATV!" usul Tut Tut.

Bobo, Kutu Buku, dan Tut Tut bersiap dengan ATV masing-masing. "Aku mau membawa bukuku!" kata Kutu Buku. Tut Tut juga sibuk mengikat kereta-keretaannya di belakang ATV. "Biar panjang seperti kereta api sungguhan," kata Tut Tut. Bobo mengencangkan tali helmnya. Mereka bertiga siap berlomba.

Siapa, ya, yang akan jadi pemenangnya? Kutu Buku memacu ATV nya. Belum jauh berjalan, Kutu Buku terpaksa berhenti karena buku-bukunya berjatuhan. Kini, Kutu Buku ada di urutan terakhir.

Giliran Tut Tut yang ngebut. Dia ingin memenangkan pertandingan. Celaka! Gandengan kereta-keretaannya putus! Ah, Tut Tut tidak ingin meninggalkan kereta-keretaannya di tengah jalan. Dia pun terpaksa berhenti.

Sekarang, Bobo yang ada di urutan paling depan. "Aha, pasti aku yang jadi juara," pikir Bobo. Bobo pun melaju dengan santai. Tiba-tiba, brum... brum... ngik! Mesin ATV yang dinaiki Bobo mati. Berkali-kali, Bobo berusaha menyalakannya, tapi gagal.

Akhirnya, tidak satu pun dari ketiga anak itu yang mencapai garis finish. "Kita semua kalah, deh!" seru Kutu Buku. "Tidak apa-apa, yang penting, kita senang!" sambut Bobo. Ya, biarpun belepotan lumpur, mereka bertiga asyik tertawa sambil makan donat. ( Vero )

.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Rabu, 15 April 2020

Balon Udara

Balon Udara


Bobo, Coreng, dan Upik ramai-ramai naik malon udara. Melihat pemandangan Negeri Kelinci dari atas memanglah epic. Anak-anak gembira sekali. "Hati-hati, Bo, topimu bisa tertiup angin!" pesan Coreng. Angin di atas memang sangat kencang. Rambut Coreng berkibar-kibar tertiup angin. Upik memegang teropongnya erat-erat.

Upik melihat pemandangan dengan teropongnya. "Itu rumah kita bukan, ya?" tanya Upik sambil menunjuk sebuah rumah yang tampak kecil di bawah. Bobo meminjam teropong Upik. "Aku juga mau lihat!" seru Coreng.

"Nanti dulu! Aku belum selesai!" teriak Upik. Coreng dan Upik berebut teropong. "Gantian, dong! Jangan berebut!" lerai Bobo. Sayang, ketika Coreng baru mulai meneropong, waktu habis. Balon udara mulai turun perlahan.

Huh! Coreng marah pada Upik. "Gimana kalau kubelikan balon sebagai gantinya?" tawar Bobo sambil menunjuk penjual balon di dekat mereka. "Tidak mau! Memangnya, aku anak kecil?" sahut Coreng ketus.

"Eh, gambarnya lucu!" kumentar Coreng sambil menunjuk balon iklan yang melayang di atas mereka. Aha! Bobo jadi ingin melakukan sesuatu untuk Coreng! "Semoga Coreng tidak marah lagi," gumam Bobo.

Wusshh... sebuah balon kecil berbentuk pesawat melintas di atas kepala Coreng. Coreng merunduk. Wusshh... lagi-lagi, balon itu mengejarnya. Xixixi.... tiba-tiba, ada suara Bobo tertawa. Rupanya, Bobi yang mengendalikan balon itu dengan remote. "Kamu mau mencobanya, Reng?" Tentu saja Coreng mau! Marah Coreng pun langsung hilang.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Minggu, 12 April 2020

Restoran Hijau


Restoran Hijau

Bobo dan saudara-saudaranya bermain di rumah pohon. "Uuuh, panas sekali di sini," keluh Upik. "Ini pasti karena global warming." komentar Coreng. "Apa ya, yang bisa kita lakukan untuk mengurangi global warming?"

"Kita bikin Restoran Hijau, yuk!" ajak Bobo. "Semua pembeli harus membawa tempat makan dan minum sendiri." Anak-anak pun membuat restoran serba hijau di halaman. Pot-pot tanaman mereka pindahkan ke sana.

Anak-anak memasak sendiri makanan yang akan mereka jual. Mereka mencari resepnya di majalah anak-anak. Ada jus buah, spaghetti, omelet, pizza mi, dan roti bakar. Dapur Emak jadi ramai.

"Selamat datang di Restoran Hijau," sambut Coreng pada pembeli pertama. Paman Gembul membalas dengan anggukan. "Aku mau spaghetti telur dan jus mangga." Paman Gembul menyodorkan kotak makan dan gelas besarnya.

Cimut menjadi pembeli kedua. "Pizza mi. Beli!" pesannya sambil menyodorkan kotak besar. "Oh, Cimut mau pizza mi?" Coreng melayani pembelinya dengan ramah dan cekatan.

Pembeli ketiga dan keempat datanb bersamaan. Oho, lagi-lagi Paman Gembul dan Cimut. "Makanan sebanyak itu masih kurang?" tanya Coreng kaget. Tetapi, dia senang karena makanannya laku.

Lalu, restoran sepi, padahal sudah sore. "Kita beli sendiri aja!" usul Bobo. Anak-anak makan, lalu memasukkan uang ke dalam kotak.

"Sekarang, kita bisa beli bibit pohon," kata Bobo. Anak-anak membeli beberapa bibit pohon. "Aku ingin memberikan dua buah bibit pohon untuk pelangganku yang setia," kata Coreng. Paman Gembul dan Cimut senang mendapatkannya. "Terima kasih, rumahku akan jadi lebih teduh!" kata Paman Gembul.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Jumat, 10 April 2020

Kolam Renang Baru


Kolam Renang Baru

Hari ini akan diadakan pesta untuk menyambut pembukaan kolam renang baru. Babak sudah tiba di tempat pesta. Sedangkan Bobo dan Upik baru akan berangkat.

Di tengah jalan, Upik minta dibelikan balon. Tapi, belum berapa jauh mereka berjalan, Upik berteriak, "Oh, balonku lepas, Bo!" Aih, sayang sekali.

"Mengapa tidak kamu pegang kuat-kuat talinya?" gerutu Bobo sambil mengejar balon. "Kita bisa terlambat tiba di kolam renang!" Namun, Upik tidak menjawabnya.

Untunglah balon itu tidak melayang tinggi ke udara. Dengan sekali lompat saja, Bobo berhasil menangkapnya. Tapi... buk!!! Bobo malah menabrak penjual balon. Penjual balon terkejut sekali. Tanpa sengaja, ia melepaskan balonnya.

"Tolooong!!!" seru penjual balon. "Balonku lepas! Oh, habislah semua uangku!" Bobo juga terkejut, tapi ia segera mengejar balon yang lepas itu. Syukurlah, bobo berhasil menangkapnya. Penjual balon pun, tidak jadi kehilangan balonnya.

"Terima kasih, Nak," ujar penjual balon. "Kalau tidak ada kamu....." Sebelum penjual balon menghabiskan kata-katanya, Bobo bertanya sendiri, "Lho, dimana upik? Bobo menengok ke kanan dan ke kiri. "Oh, mungkin ia sudah masuk ke kolam renang." pikir Bobo.

Cepat-cepat Bobo berlari menuju ke kolam renang untuk mencari Upik. Tetapi, tiba-tiba ia melihat banyak balon melayang di angkasa. Balon-balon itu datang dari arah kolam renang. "Oh, apa yang telah dilakukan Upik? Apakah karena ulahnya balon itu lepas semua?"

Ketika Bobo masuk ke kolam renang, dilihatnya Upik berdiri si samping Bapak. "Upik, apa yang telah....." Tetapi Bapak sudah berkata, "Wah, kamu datang tepat pada waktunya, Bo. Lihat, semua anak sudah melepaskan balonnya untuk menyambut upacara pembukaan!" Bobk tidak jadi memarahi Upik. Ia malah tersenyum gembira. Untung balon-balon itu terlepas bukan karena ulah Upik. Bobo memandang balon-balon beraneka warna yang melayang di angkasa sambil berseru, "Hore! Hore! Selamat untuk kolam renang baru!"
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Senin, 06 April 2020

Tanda Tangan Pengarang


Tanda Tangan Pengarang

"Buku terbaru serial Kelinci Cerdik mau terbit! Kita bisa beli bukunya tengah malam, lalu mendapatkan tanda tangan pengarangnya," kata Kutu Buku. Anak-anak tertarik. Mereka pengemar berat serial Kelinci Cerdik.

"Tidak boleh! Acaranya tengah malam. Kalian besok harus sekolah," kata Bapak. Anak-anak kecewa. "Beli saja bukunya besok siang," hibur Emak. Pulang sekolah, anak-anak mampir ke toko buku.

"Wah, Kak Tulis Labuku tidak ada. Kalian tidak bisa mendapatkan tanda tangannya," kata penjaga toko. Anak-anak terpaksa membeli serial Kelinci Cerdik tanpa tanda tangan pengarang favorit mereka.

"Padahal, aku juga ingin berfoto dengan Kak Tulis Labuku," kata Coreng. "Iya, pasti seru kalau kita punya buku yang ada foto dan tanda tangan pengarangnya," sahut Kutu Buku.

Aha, Bobo mendapat ide. "Kita bikin buku sendiri!" Anak-anak langsung sibuk. Hmm, gaya Kutu Buku serius sekali. Dia berpikir keras sambil membuka-buka kamus. Coreng juga asyik dengan pensil warnanya.

"Bukuku sudah selesai!" seru Bobo. "Aku juga! Lihat, bagus, kan?" kata Upik. Coreng malah menambahkan gambar-gambar yang indah di dalam bukunya. "Tato Ajaib, pengarang Kutu Buku!" pamer Kutu Buku.

"Ayo kita berfoto!" teriak Coreng. "Upik, kamu bergaya yang cantik, ya!" Klik! Klik! Mereka bergantian saling memotret. Foto-foto mereka yang keren itu mereka cetak di komputer. "Jangan lupa ditandatangani, ya!" pesan Bobo.

"Cihuy! Sekarang, kita semua punya buku yang ditandatangani oleh pengarangnya!" seru Upik. "Kita bisa terkenal seperti Kak Tulis Labuku!" sahut Kutu Buku sambil tertawa. ( Vero )
.
.
.
Temukan artikel menarik lainnya di sini
Ikuti akun instagram penulis
Kunjungi juga channel youtube penulis

Hamster Hilang

Hamster Hilang Upik sedang bermain-main dengan hamsternya. Dia mengeluarkan hamster itu dari kandangnya. "Upiiik!" tiba-tiba Emak ...